Sehari Demi Setiap Hari

sehari demi setiap hari

“Tak satu pun dari kita tahu apa yang akan terjadi. Jangan habiskan waktu mencemaskannya. Ciptakan hal terindah yang kamu bisa. Coba lakukan itu setiap hari. Itu saja.”

-Laurie Anderson

Setiap kali seseorang mulai berbicara tentang “perjalanan kreatif”, aku memutar bola mataku.

Hal itu terdengar terlalu angkuh bagiku. Terlalu heroik.

Satu-satunya perjalanan kreatif yang tampak kutempuh setiap hari adalah perjalan bolak-balik sejauh tiga meter dari pintu belakang rumahku ke studio di garasiku. Aku duduk di meja kerjaku dan menatap lembaran kertas kosong sambi berpikir, “Bukankah aku melakukan hal yang sama seperti kemarin?”

Saat aku sedang mengerjakan karyaku, aku tidak meras sebagai sosok Odysseus. Aku lebih merasa seperti Sisyphus yang menggelindingkan batu besar menaiki bukit. Saat bekerja, aku tidak merasa menjadi sosok Luke Skywalker. Aku lebih merasa sebagai Phil Connors dalam film Groundhog Day.

Bagi kamu yang belum pernah menyaksikannya atau memorimu perlu diingatkan kembali, Groundhog Day adalah sebuah film komedi tahun 1993 yang dibintangi Bill Murray sebagai Phil Connors, seorang peramal cuaca yang tersangkut dalam satupusaran waktu dan terbangun setiap pagi di tanggal 2 Februari–Hari Groundhog–di Punxsutawney, Pennsylvania, rumah bagi Punxsutawney Phil, Groundhog (marmut) terkenal yang bisa meramalkan akankah ada enam minggu musim dingin lagi, berdasarkan bila ia melihat bayangannya atau tidak. Phil, sang peramal cuaca, membenci Punxsutawney, dan kota itu menjadi semacam tempat penebusan bagi dirinya. Meski mencoba segala hal yang terpikirkan olehnya, dia tetap tidak bisa keluar dari kota itu, dan tidak bisa mencapai tanggal 3 Februari. Musim dingin, bagi Phil, tiada akhirnya. Tak peduli apa pun yang dilakukannya, dia masih saja terbangun di ranjang yang sama setiap pagi untuk menghadapi hari yang sama.

Baca Juga: Kepuasan Diri Sendiri dan Sambutan ADT yang Tidak Meyakinkan

Dalam moment keputusasaann, Phil berpaling pada pasagan mabuk di sebuah bar arena boling dan menanyai mereka, “Apakah yang akan kamu lakukan kalau kamu terjebak di satu tempat? Setiap hari kejadiannya sama persis, dan tak satu pun yang kamu lakukan berarti?”

Itulah pertanyaan yang mesti dijawab Phil untuk memajukan plot film tersebut, tetapi itu juga merupakan pertanyaan yang harus kita jawab untuk memajukan plot kisah hidup kita.

Menurutku, caramu menjawab pertanyaan ini adalah senimu.

sehari demi sehari

Pages: 1 2

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Kebijakan Privasi | Disclaimer | Pedoman Siber - Copyright © 2021. Semua Saudara. Allright Reserved.