Membuat Hadiah Mendekatkan Kita Dengan Bakat Kita

membuat hadiah

“Jangan berkarya karena kamu ingin mendapatkan uang-ia tak akan pernah bisa memberimu cukup uang. Dan jangan berkarya karena kamu ingin meraih popularitas-karena kamu tidak akan pernah merasa cukup populer. Membuat hadiah untuk orang-orang-dan bekerja keraslah dalam membuat hadiah-hadiah tersebut dengan harapan agar orang-orang itu akan memperhatikan dan menyukai hadiahnya.”

– John Green

Dalam bukunya The Gift, Lewis Hyde berpendapat bahwa seni itu hadir baik dalam membuat hadiah maupun ekonomi pasar, tetapi “saat tak ada hadiah, tidak ada seni”. Ketika karya seni kita dikuasai oleh pertimbangan pasar-apa yang menerima banyak klik, apa yang laris-maka ia dengan cepat akan kehilangan elemen hadia yang menjadikannya sebagai sebuah karya seni.

Kamu tahu arti kesuksesan itu, atau setidaknya kamu memiliki definisi tersendiri tentangnya. (Definisiku: ketika hari-hariku terlihat seperti yang kuinginkan.)

“Suckcess”, di sisi lain, adalah sukses dalam istilah versi orang lain. Atau sukses yang tak pantas didapatkan. Atau ketika sesuatu yang kamu anggap sucks (payah) menjadi kesuksesan. Atau ketika kesuksesan atau memburu kesuksesan itu mulai terasa payah saja.

Baca juga: Abaikan Angka-Angkanya

“Suckcess” adalah hal yang dirujuk oleh pujangga Jean Cocteau ketika dia berkata, “Ada jenis kesuksesan yang lebih buruk dari kegagalan.”

Melangkah Keluar Dari Pasar Dan Membuat Hadiah

Kita semua melalui siklus-siklus kejemuan dan keterpurukan kembali dengan karya kita. Bila kamu merasa bimbang atau merasa kehilangan bakatmu (gift), cara tercepat untuk memulihkannya adalah dengan melangkah keluar dari pasar, dan membuat hadiah (gift).

Tidak ada aksi semurni membuat sesuatu secara khusus untuk seseorang istimewa. Ketika putraku, Owen, berusia lima tahun, dia sangat terobsesi dengan robot. Jadi, setiap kali aku mulai merasa membenci diriku sendiri dan pekerjaannku, aku mengambil jeda selama setengah jam dan membuat sebuah kolase robot dari selotip dan majalah. Ketika aku memberikannya robot itu, sering kali dia berbalik dan membuat robot untuk diriku. Kami bertukar bolak-balik seperti itu selama beberapa saat sampai, sebagaimana lazimnya anak-anak, dia mulai meninggalkan robot-robotan dan menjadi terobsesi dengan hal lain. Robot-robot itu masih merupakan bagian dari hal-hal favorit yang pernah kubuat.

Cobalah: Kalau kamu merasa jenuh dan membenci pekerjaanmu, pilih seseorang yang istimewa dalam hidupmu dan membuatkan hadiah untuk mereka. Kalau kamu mempunyai penggemar yang banyak, buat hal yang istimewa untuk mereka dan bagikanlah secara cuma-cuma. Atau bahkan lebih baik lagi: Luangkan waktumu dan ajari orang lain cara membuat sesuatu yang kamu buat dan melakukan hal yang kamu lakukan. Lihatlah bagaimana perasaanmu. Perhatikanlah jika hal itu memperbaiki kondisimu.

Kamu tidak pernah tahu kapan suatu hadiah yang akan dibuat untuk satu orang bisa berubah menjadi hadiah bagi seluruh dunia. Ingatlah betapa banyak kisah-kisah terlaris yang memulai kehidupannya sebagai kisah-kisah pengantar tidur untuk anak-anak tertentu.A.A.Milne menciptakan Winnie-the-pooh untuk putranya, Christopher Robin Milne. Karin, putri Astrid Lindgren yang sedang terbaring sakit di ranjang memintannya untuk mengarang sebuah cerita tentang seorang anak gadis bernama Pippi Longstocking (Pippi si Kaus Kaki Panjang). C.S.Lewis meyakinkan J.R.R Tolkien untuk mengubah kisah-kisah fantastis yang diceritakannya kepada anak-anaknya menjadi The Hobbit. Daftarya masih panjang.

Tak ada hadiah, tak ada karya seni.

“Yang sebenarnya paling kukhawatirkan adalah menyentuh satu orang.”

– Jorge Luis Borges

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Kebijakan Privasi | Disclaimer | Pedoman Siber - Copyright © 2021. Semua Saudara. Allright Reserved.