Kunjungi Masa lalu dan Bangkitkan Gagasan Lama

kunjungi masa lalu

Sebagian orang yang hidup di masa kini begitu terobsesi dengan hal-hal baru sehingga mereka semua memikirkan tentang hal-hal yang sama. Kalau kamu memiliki masalah menemukan orang sebagai teman berpikir, kunjungi masa lalu, carilah mereka yang telah mati. Ada banyak yang ingin mereka sampaikan dan mereka adalah para pendengar yang hebat.

“Setiap zaman memiliki cara pandangnya masing-masing. Ia secara khusus baik dalam melihat kebenaran-kebenaran tertentu dan secara khusus rentan untuk membuat kesalahan-kesalahan tertentu. Karena itulah, kita semua memerlukan buku-buku yang akan mengoreksi kesalahan-kesalahan karakteristik dari masa kita sendiri. Dan itu berati buku-buku yang lama … Pastinya, buku-buku di masa mendatang akan menghadirkan koreksi yang sama baiknya denan buku-buku di masa lalu, tetapi sayangnya kita tidak bisa mendapatkannya.”

-C. S Lewis

Bacalah buku-buku lama. Manusia telah ada sejak waktu yang sangat lama, dan hampir setiap masalah yang kamu temui telah ditulis oleh manusia lain yang hidup ratusan bahkan mungkin ribuan tahun sebelum dirimu. Seorang negarawan Roma dan filsuf, Secena, berkata bahwa jika kamu membaca buku-buku lama, kamu bisa kunjungi masa lalu dan menambahkan seluruh tahun yang dijalani sang penulis itu ke dalam masa hidupmu sendiri. “Kita dikecualikan dari masa apa pun, tetapi kita memiliki akses pada semunya,” ucapnya. “Mengapa tidak beralih dari waktu yang singkat dan fana ini dan membawa diri kita sepenuhnya ke masa lalu, yang tidak terbatas dan abadi dan bisa dibagi dengan orang-orang yang lebih baik dari diri kita?” (Dia menuliskan itu hampir dua ribu tahun yang lalu!)

Sungguh mengherankan betapa kehidupan hanya berubah sedikit. Ketika aku membaca Tao The Ching karya Lao Tzu, aku terkagum-kagum saat menyadari betapa setiap puisi kuno pada dasarnya merupakan komentar usang terhadap politisi kontemporer kita. Sekilas membaca jurnal-jurnal Henry David Thoreau akan melukiskan sebuah potret seorang pria pencinta tanaman yang memiliki pendidikan tinggi, setengah menganggur, kecewa dengan situasi politik, dan tinggal bersama orangtuanya-dia terdengar sangat mirip dengan salah seorang kawan milenialku!

Baca Juga: Mendengarkan dan Menghargai Pelanggan – Gender Gap

Kita memiliki ingatan yang sungguh pendek. Kamu tidak perlu pergi begitu jauh ke masa lalu untuk menemukan hal-hal yang sudah kita lupakan. Membuka sebuah buku yang baru seperempat abad usianya bisa saja seakan membuka sebuah peti harta karun yang terkubur.

Kalau kamu menginginkan sebuah cara cepat untuk membebaskan diri dari kebisingan kehidupan kontemporer, keluarlah dari gelembungmu yang terdiri atas orang-orang yang bepikir serupa, dan berpikirlah dengan saksama, kunjungi masa lalu sejenak. Ia tidak akan ada habisnya: Setiap hari, kita malah semakin menambahkannya.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Kebijakan Privasi | Disclaimer | Pedoman Siber - Copyright © 2021. Semua Saudara. Allright Reserved.