Bermain Adalah Pekerjaan Sejatimu

bermain adalah pekerjaan

Semua anak belajar tentang dunia lewat bermain. “Permainan anak” merupakan istilah yang kita gunakan untuk meggambarkan hal-hal yang mudah, tetapi kalau benar-benar menyaksikan anak-anak bermain, ia sama sekali tidak mudah. “Bermain adalah pekerjaan seorang anak”, sebagaimana dikatakan oleh Maria Montessori. Ketika anak-anakku bermain, mereka larut sepenuhnya dalam pekerjaan mereka. Mereka memfokuskan pandangan mereka seperti sinar laser. Mereka mengerutkan wajah penuh konsentrasi. Saat mereka tidak berhasil membuat bahan-bahan yang mereka miliki untuk melakukan hal seperti yang mereka inginkan, mereka akan melepaskan tantrum yang dahsyat.

Namun, bermain adalah pekerjaan terbaik mereka, dilakukan dengan semacam keringanan dan ketidakacuhan dari hasilnya. Ketika puteraku, Jules, berumur dua tahun, aku menghabiskan banyak sekali waktu menyaksikan dirinya menggambar. Kuperhatikan bahwa dia sama sekali tidak peduli dengan hasil gambar yang aktual (nominanya)-seluruh energinya difokuskan pada menggambar (verbanya). Begitu dia selesai menggambar, aku boleh saja menghapusnya, membuangnya ke keranjang sampah, atau menggantungkannya di dinding. Dia tidak terlalu perduli. Dia juga seorang agnostik yang medium: dia sama senangnya dengan krayon di kertas, spidol di papan tulis putih, kapur di jalan, atau, di medium yang menguji orangtuanya, kapur di bantalan sofa luar ruang. (Gambar-gambarnya begitu bagus sampai-sampai istriku memutuskan untuk menyulamnya. Lagi-lagi, Jules cuek saja.)

Bermain Adalah Pekerjaan Terbaik Mereka

Bermain adalah pekerjaan seorang anak dan juga merupakan pekerjaan seorang seniman. Aku pernah berjalan-jalan di Distrik Mission di San Fransisco dan berhenti untuk berbincang dengan seorang pelukis jalanan. Saat aku berterima kasih atas waktunya dan meminta maaf karena telah mengganggu waktu kerjanya, dia berkata, “Rasanya bukan seperti pekerjaan bagiku. Rasanya lebih seperiti bermain.”

Para seniman besar mampu mempertahankan rasa keriangan ini sepanjang karier mereka. Seni dan seniman sama-sama paling merugi ketika sang seniman merasa terlalu terbebani, terlalu terfokus pada hasilnya.

Ada sejumlah kiat untuk menjaga keceriaan dan kembali ke kondisi bermain serupa anak kecil. Sang penulis Kurt Vonnegut menulis sebuah surat untuk sekelompok siswa SMU dan menugasi mereka pekerjaan rumah sebagai berikut: Tuliskan sebuah puisi dan jangan tunjukan kepada siapa pun. Sobek menjadi serpihan kecil dan buang ke keranjang sampah. “Kamu akan dapati bahwa kamu telah mendapat imbalan hebat atas puisimu. Kamu telah merasakan transformasi, belajar jauh lebih banyak tentang apa yang ada di dalam dirimu, dan kamu telah menjadikan jiwamu bertumbuh.” Hal itu, ucap Vonnegut, tujuan membuat karya seni sepenuhnya: “Mempraktikan seni, betapa pun baik atau buruknya, merupakan cara untuk membunuh jiwamu. Itu sudah pasti.” Vonnegut mengulangi beberapa variasi dari nasihat itu sepanjang hidupnya. Dia menyarankan kepada putrinya, Nanette, bahwa dia semestinya membuat sepotong karya seni, lalu membakarnya sebagai “sebuah latihan spiritual.” (Ada sesuatu yang bersifat katarsis dari membakar hasil karyamu: Seniman John Baldessari, yang merasa muak dengan karya sebelumnya, mengkremasi semuanya dan menaruhnya di kendi seremonial.)

Baca juga: Titel Pekerjaan – Kreativitas Bukanlah Sebuah Nomina

Kalau kamu merasa telah kehilangan kerianganmu, berlatihlah tanpa tujuan. Kamu tak perlu sampai benar-benar membakarnya. Para musisi bisa bermain musik tanpa membuat rekaman.

Para penulis dan seniman bisa mengetik atau menggambar selembar, lalu membuangnya. Para fotografer bisa mengambil foto dan langsung menghapusnya.

Tidak ada yang mampu menambah keseruan bermain selain dari adanya sejumlah mainan baru. Cari alat-alat dan material yang tidak biasa. Temukan cara baru untuk diutak-atik.

Trik lain: Ketika tidak ada lagi yang terasa menyenangkan, coba buat sesuatu seburuk mungkin. Lukisan terburuk. Puisi yang sangat payah. Lagu yang menyebalkan. Membuat sebuah karya seni yang dengan sengaja dibuat buruk sangat menyenangkan.

Terakhir, coba habiskan waktu bersama anak-anak kecil. Bermain adalah pekerjaan anak-anak. Bermainlah petak umpet. Melukislah dengan jemari. Bangun menara dari balok-balokan, lalu robohkan. Curilah apa pun yang cocok buatmu. Ketika penulis Lawrence Weschler perlu mencari tahu kerangka untuk salah satu karyanya, dia akan bermain-main dengan balok-balok kayunya. “Putriku tidak diizinkan untuk bermain dengan balok-balokan itu,” ujarnya. “Balok-balok itu milikku.”

Jangan terlalu terbebani. Jaga Keriangan. Bermainlah dengan bebas karena bermain adalah pekerjaan sejatimu.

“Kamu harus berlatih bersikap bodoh, bebal, tanpa pikiran kosong. Dengan begitu, kamu akan bisa MELAKUKANNYA… Cobalah lakukan pekerjaan yang BURUK-hal terburuk yang bisa kamu pikirkan dan lihatlah apa yang terjadi, tetapi tetaplah relaks dan lupakan segalanya-kamu tidak bertanggung jawab atas karyamu jadi LAKUKANLAH.”

– Sol LeWitt pada Eva Hesse

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Kebijakan Privasi | Disclaimer | Pedoman Siber - Copyright © 2021. Semua Saudara. Allright Reserved.