Belajar Menolak Dengan Berkata Tidak

berkata tidak

“Aku harus menolaknya, untuk alasan-alasan rahasia.”

– E.B White

Demi melindungi tempat dan waktu keramatmu, kamu harus belajar cara untuk menolak berbagai macam undangan dari dunia. Kamu harus belajar untuk berkata tidak.

Penulis Oliver Sacks bahkan sampai tidak memakukan plang besar bertuliskan “TIDAK!” di rumahnya di samping telepon untuk mengingatkan dirinya supaya menjaga waktu menulisnya. Seorang arsitek Le Corbusier menghabiskan waktu pagi di apartemennya untuk melukis dan waktu sore dikantornya untuk mempraktikan ilmu arsitekturnya. “Melukis setiap pagi memampukanku untuk menjernihkan pikiranku setiap sore,” ujarnya. Dia berusaha sebisa mungkin untuk memisahkan kedua identitasnya itu, bahkan menandatangi karya-karya lukisnya dengan nama lahirnya, Charles-Edouard Jeanneret. Seorang jurnalis pernah mengetuk pintu apartemennya pada jam-jam melukisnya dan meminta untuk berbicara dengan Le Corbusier. Le Corbusier menatap lurus matanya dan berkata, “Maaf, dia sedang tidak ada di rumah.”

Bentuk Seni Berkata Tidak

Berkata tidak merupakan sebuah bentuk seni tersendiri. Seniman Jasper Johns menjawab undangan dengan sebuah stempel “Maaf” besar buatan sendiri. Penulis Robert Heinlein, kritikus Edmund Wilson, dan para editor di majalah Raw semua menggunakan jawaban dengan kotak ceklis.Akhir-akhir ini, sebagian besar dari kita menerima undangan dalam bentuk surel, jadi sunggh berguna jika kamu sudah menyiapkan sebuah templat “tidak, terima kasih”. Dalam Karyanya “Kiat Menolak secara Halus pada Siapa pun,” Alexandra Franzen menyarankan hal berikut: Sampaikan terima kasihmu kepada sang pengirim karena telah mengingat dirimu, tolaklah, dan, jika memungkinkan, tawari bentuk dukungan lain.

Baca Juga: Mode Pesawat Terbang Bisa Jadi Sebuah Cara Hidup

Media sosial telah menciptakan sebuah fenomena manusia bernama FOMO: Fear of Missing Out (Khawatir Ketinggalan Informasi atau Kudet). Saat menggulirkan konten feed-mu, kamu akan merasa seakan semua orang di luar sana menikmati waktu yang lebih menyenangkan daripadamu. Satu-satunya penawar untuk hal ini adalah JOMO: Joy of Missing Out (Kesenangan dari Ketinggalan Informasi). Sebagaimana penulis Anil Dash menjelaskan, “Bisa jadi akan ada, dan semestinya memang akan ada, suatu kesenangan yang menenangkan dan membahagiakan dengan mengetahui dan merayakan bahwa ada orang-orang di luar sana yang tengah menikmati hari mereka dengan melakukan sesuatu yang mungin kamu senangi, tetapi kamu lewatkan begitu saja.”

Mengatakan “tidak” kepada dunia bisa teramat sulit, tetapi terkadang itulah satu-satunya cara untuk berkata “iya” terhadap karyamu dan kewarasanmu.

“Aku melukis dengan punggungku membelakangi dunia.”

-Agnes Martin

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Kebijakan Privasi | Disclaimer | Pedoman Siber - Copyright © 2021. Semua Saudara. Allright Reserved.